ketika formal dan non formal membaur

Kapan hari ketika saya mengerjakan sebuah kerjaan yang harus dikumpulkan ke klien besok paginya, ketika itu jam 3 an pagi, tiba-tiba piranti ceting saya mengeluarkan sebuah pertanyaan ” menurut mas desainer harus lulusan desainer ya ?”.

mak  ceplos saya jawab aja iya, kenapa? simpel saja, saya pengen desainer itu menjadi profesi yang diakui negara secara resmi. Ketika kita bikin KTP, multiple choice jenis pekerjaan disana tidak mencantumkan desainer sebagai pekerjaan, maka yang bekerja sebagai desainer mungkin akan memilih wiraswasta. Pikiran semacam itu tidak sepenuhnya makbedunduk keluar dari pikiranku yang sedang berpikir, tetapi lebih suatu pemikiran terlebih dahulu kemudian dikuatkan dengan statement teman yang berharap pekerjaan desainer menjadi pekerjaan resmi, dari situ saya mulai percaya klo pemikiranku hampir terjadi -mungkin- pada setiap orang, desainer lebih khususnya.

Melihat keadaan sekarang, banyak orang dengan senjata flesdis dan mampu sopwer grapis sudah disebut desainer, bahkan income nya lebih berlipat daripada seorang desainer beneran -yang sekolah formal-. Kemudian rakyat kita punya banyak pilihan, kemudian terjadilah desainer yang formal dan punya base skill yang bagus menjadi tidak laku, kalah sama desainer yang modal corel dan flesdis dan menjual ide dengan murah ( karena tidak perlu membayar biaya kuliah). Inti pembicaraan tidak bertumpu pada masalah formal atau non formal, bayar atau tidak bayar kuliah, tetapi ketika seseorang telah berdiri atas nama materi dan melupakan tanah yang ia pijak yang menjadi pondasi tempat ia berdiri, hanya untuk kepentingan materi, maka suatu saat, ketika tanah merasa bahwa  ia dilupakan dan kemudian beranjak pergi, maka saat itu seseorang tak akan punya pijakan untuk berdiri dan limbung, kemudian akan jatuh berkeping-keping. hal itu yang nampaknya lambat laun akan terjadi di dunia desain grafis, Indonesia sedang mengalami suatu gejala perpindahan menuju negara industri, dimana semua brand ingin dikenal sebagai yang terhebat. Mulai pecel lele sampai pertamina saat ini sadar betapa pentingnya ingin produknya dikenal dan digunakan semua orang, demi sebuah pencapaian kapital yang kokoh. Proses pengenalan brand ini yang membuat, mau tidak mau membutuhkan desainer grafis diperlukan untuk mencapai tujuan, dari stiker tukang soto yang mirip stiker 123 klan sampai logo kapital besar yang berharga milliaran rupiah, semua membutuhkan bantuan tenaga-tenaga kreatif, sehingga geliat pasar pun berkembang, semua orang ingin jadi desainer karena saat ini ini sedang berpeluang bagus.  bermodal sebuah komputer dan segelas kopi, kahirnya banyak individu menawarkan kepawaian mereka dalam membuat sebuah logo dan editorial desain lainnya, dipresentasikan di depan klien sambil minum cappucino chocolate float, klien setuju kemudian berakhir dengan payment. Kondisi peralihan semacam ini sebenarnya keadaan paling gawat, ketika tuntutan klien yang mengiming-imingi duit sekuintal bertanya yang membuat banyak desainer gelap mata, meraka dengan semangat berselancar dan mengunduh source, creative output yang beredar tak terkndali di internet, kemudia dengan bantuan software grafis mereka mulai mencontoh atau bahkan dengan sedikit trik kemudia meletakkan logo klien di atas image yang kebetulan cocok dengan bidang usaha klien, diatas karya orang ia dapat dari internet tanpa permisi.  Pembajakan karya, logo, illustrasi dll. merupakan hal yang sudah sering kita lihat saat-saat ini, ini menunjukkan  lemahnya kesiapan mental kita menghadapi dunia industri yang kejam saat ini. Demi dan atas nama uang, mereka telah melupkan sebuah tata krama yang sudah ada sebelum mereka berkecimpung di desain grafis, tata krama untuk tidak menyalahgunakan hak milik orang lain secara ngawur. Mungkin banyak faktor dimana penyalah gunaan seperti ini terjadi, base dunia yang mereka geluti tidak meraka kuasai baik dari segi teori dan prakttik sehingga memaksa meraka mengambil jalan pintas untuk menutupi kekurangan dan menaikkan status level mereka di hadapan klien.  Jika ini terus berlanjut, tidak salah bila saya mengatakan jika masyarakat indonesia akan makin amburadul dan telah membuat bola salju penyakit yang lama-lama akan membesar dan pecah. Keadaan semacam inilah yang banyak menginspirasi saya, kenapa desainer grafis harus berpendidikan formal. Dari pengetahuan dasar sampai tingkat lanjut akan mereka kuasai jika meraka belajar, dan tentunya dengan pengetahuan yan layak dan semestinya, output yang dihasikan nya pun pastinya akan lebih perfect0.

Sebenernya formal ataupun non formal menjadi tidak masalah bagi saya ketika masyarakat luas sudah bisa membuka matanya. Ketika kepentingan uang menjadi masalah dan merendahkan sebuah martabat profesi, saya mulai agak teganggu disitu. Mungkin perlu diadakan sebuah standarisasi bagi desainer, tapi akankah cukup dengan mempunyai sertifikat trus martabat profesi desainer akan meningkat, saya rasa tidak juga…

masih membingungkan masalah ini

saya sendiri masih bingung enaknya gimana ya…

terserahlah, yang penting saya berusaha untuk lulus saja, lain kali klo dah mood tak terusin…

One thought on “ketika formal dan non formal membaur”

  1. hahahaa, gw cukup senang pas di ktp bisa nulis profesi gw sebagai arsitek😛
    hahaaa, tapi asyemmm, pas perpanjang SIM, berubah lagi jadi “karyawan”
    *sighhhh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s