Sebuah Filosofi

ini saya mengutip dari blognya laksmindra-fitria, yang berjudul Pria yang ideal sebagai suami: Sebuah Filosofi. , tulisan yang diaduk dengan nilai filosofis yang sederhana namun tak sederhana dalam makna. Begitu menancapkan pesan penting di kepala saya, semoga tidak melanggar hak apapun, dalam rangka saya copy paste ini.

,“Bagaimana kamu mendefinisikan seorang pria? Umumnya dilihat dari jenis kelaminnya kan? Apakah manusia yang  memiliki penis sudah pantas dikatakan seorang pria? Belum, menurutku. Penis itu lambang nafsu, karena itulah mereka bercelana untuk menutupi nafsunya. Tetapi apakah itu berarti mereka bisa mengendalikan nafsunya? Tidak, mereka hanya bisa menutupinya dari kita, selebihnya disimpan di otaknya. Kalau di otaknya hanya ada nafsu terpendam, sama saja bohong, karena Tuhan menciptakan manusia dengan akal, bukan hanya hidup untuk mengumbar nafsu. Bagi saya, seorang pria adalah mereka yang mau menggunakan otaknya secara rasional, berpikir panjang ke depan mengenai resiko, dan mau bertanggung jawab terhadap keputusannya. Mengenai ego, tidak masalah asal pada tempatnya karena seorang pria membutuhkan ego untuk menciptakan figur dan kewibawaanya.”

2 thoughts on “Sebuah Filosofi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s